Jumat, 23 Oktober 2020

 

Peranan  TNI Dalam  Era  Globalisasi*

( Refleksi  HUT  ke-75 TNI   5 Oktober 2020)


Oleh  Untung  Dwiharjo

Peneliti pada  LAZNAS  YDSF, Alumnus  Fisip Unair

Pada  Setiap  tanggal 5 Oktober  Tentara  Nasional Indonesia  (TNI) mempunyai gawe Besar.  Berupa  Peringatan ulang tahun  kelahiran dirinya.  Dimulai  dari tahun 1945 dimana  TNI  banyak berpearan  dalam  membela eksistensi  Negara  Republik Indoensia dari Penjajahan negara asing sampai era sekarang ini. Perjalanan yang  berliku dan penuh onak dan duri  untuk  mempertahankan negara ini dari rongorongan  bangsa asing serta   gejolak  dalam  negeri  yang   memuncak  pada  meletusnya peristiwa  G 30 Sepetember 1965/PKI yang  mengakibatkan gugurnya pucuk pimpinan  TNI  Angkatan Darat.

TNI pun  bersama-sama rakyat  turut memberantas  bahaya  dari  dalam negeri tersebut sehingga negera  kembali aman dan terkendali. Sampai kemudian pada masa Orde  Baru  TNI   menjalankan fungsi sebagai  “dwifungsi ABRI”  dengan  menjalankan  fungsi  hamkam dan  politik. Sampai  pada  era reformasi  TNI   diposisikan  “Kembali  ke Barak”  yang hanya mengurusi pertahanan negara.

Dinamika  Peran  TNI

Dalam Setiap  refleksi  Hari ulang  tahun TNI. Maka tidak dapat dilepaskan  dari  peran  TNI dari  masa-ke masa. Untuk itulah kita  harus  mengingat  Pidato Jenderal Abdul Haris  Nasution sebagai  KSAD pada HUT I Akademi Militer   Magelang  tahun 1958 yang menyampaikan pidato “jalan tengah” yang sangat  monumental, saat itu ia membedakan secara tegas antara  TNI dengan tentara bayaran  yang apolitik  di Barat maupun  tentara yang “ haus kekuasaan” seperti  di Amerika Latin  (Haryadi, 1990).

Pidato   Jalan Tengah  Nsution itu  kemudian diadopsi oleh pemerintahan  Orde  Baru dengan  “dwifungsi ABRI” dimana  tentara disamping sebagai kekuatan  pertahanan ( tempur) sekaligus  juga kekuatan politik dengan  memiliki wakil di lembaga legistlatif  (MPR).  Sehingga banyak perwira-perwira  TNI waktu itu yang dikaryakan di luar  wilayah kemiliteran.

Selanjutnya  pada  masa reformasi  setelah  yang ditandai dengan tumbangnya  pemerintahan  Suharto  maka atas  amanat  reformasi   TNI  mengalami  perubahan peran. Yaitu  setelah TNI  berpisah  dengan  POLRI, dimana  TNI  harus “Kembali ke Barak. Dalam Hal ini  TNI  tidak lagi berpolitik  tetapi hanya  menangani  masalah keamanan saja. Hal tersebut  karena  tuntutan reformasi  yang menginginkan TNI tidak dijadikan alat oleh  negera  untuk  mempertahankan  kekuasaan  sebagaimana dipraktekan  Pak  Harto di masa Orde Baru .

 

Hindari  Jadi Alat Kekuasaan

TNI  harusnya  tidak menjadi alat kekuasaan.  Untuk dibenturkan  dengan rakyat. Sebagaimana terjadi pada kasus sengketa lahan, dibenturkan  dengan kalangan  mahasiswa  dan kekuatan  civil society. Seperti pada  penangkapan mahasiswa pada masa reformasi yang berujung pada gugurnya  beberapa  mahasiswa. Yang sampai sekarang  belum ditemukan  jasadnya.

Untuk itulah harusnya  TNI tidak  menjadi alat kekuasaan  negara untuk mempertahankan kekuaasaan politik pihak-pihak tertentu di republik ini. TNI  harus lepas dari  kekuatan politik manapun, terlebih lagi dari para cukong yang  ada di negara ini. Sehingga  TNI  bekerja  dengan  hati nuraninya.  Bukan kepada pemilik  modal yang berkantong tebal.

Terlebih  jangan sampai TNI di dikte oleh kekuatan tertentu untuk  selalu melayani  kepentingan golongan tertentu  yang mungkin itu bertentangan  dengan  sumpah  prajurit dan Sapta Margaserta Pancasila & UUD 1945.  Jangan sampai TNI bertindak represif  kepada pihak tertentu  yang dipandang sebagai lawan sebagaimana  terjadi di masa lalu. Jangan sampai TNI  menjadi perangkat negara yang ideologis (Ideological State Apparatus/RSA) sebagaimana dikatakan Louis Althuser (1971). Dimana sifat RSA bersifat sentralistis dan sistematis yang berfungsi sebagai penyanggga kekuasaan yang sah dan eksplisit.(Cahyadi, 1993).    

Peran  Di tengah  Globalisasi.

Kini diarus  perubahan zaman yang sangat  cepat, dimana peran teknologi informasi (IT) dan perkembangan internet  dan digitalisasi  kehidupan manusia dengan adanya pandemi Covid-19. Memaksa TNI pun  harusnya  melakukan reorintasi  peran  di masa  yang akan datang.  Pelibatan  perwira militer misalnya  dalam penanganan Covid-19 tentunya bisa dilihat sebagai  sinyal perubahan peran TNI  dalam kehidupan bermasyarakat  dan bernegara. Tapi gejala ini perlu dilihat  apakah temporer saja atau  untuk seterusnya.          

Kemudian  ditengah  zaman serba canggih ini TNI  perlu  perubahan  pendekatan  dalam  memecahkan  persoalan bangsa, karena  bagaimanapun  juga TNI  masih  dipandang sebagai kekuatan pengintegrasi sekaligus pembangun bangsa. Dimana  sebagai militer profesional  memusatkan diri pada fungsi pertahanan dan keamanan, menjauhkan diri dari politik serta lebih peduli pada pembinaan secara ketat profesionalisme kemiliteran ( Fatah, 1998).

Kini ditengah globliasi   TNI butuh reorientasi peran dimana dibutuhkan  perubahan-perubahan dalam bahasa politik militer : dari represi ke persuasi, dari monolog ke dialog dan dari defensif ke responsif. Sehingga di era kontemporer ini  peran TNI menjadi lebih humanis, peka dengan  kondisi negara dan rakyatnya sehingga  jiwa sapta  Marga TNI untuk   memihak rakyat  sebagaimana awal berdirinya di tahun 1945 tetap  menjadi pedoman.

Apalagi sekarang di era  perang semesta dengan  adanya perang teknologi maka TNI  dituntut  lebih responsif dengan persoalan rakyat. Kini waktunya TNI berperan sebagaimana digambarkan  Peter Britton ( 1996) dari “jago”  menjadi “ Satria”. Selamat Ulang  Tahun TNI.  

*Pernah dimuat di  Harian Bhirawa Online pada  Senin, 5 Oktober 2020 

   

 

Mengantisipasi    New Normal  yang  Abnormal*

 


 

Oleh  Untung  Dwiharjo

Peneliti pada  LAZNAS  YDSF Surabaya, Alumnus  Fisip Unair

 

New Normal itulah  sebuah  istilah  yang  akhir-akhir ini banyak menghiasi wacana publik. Mulai  dari kelas  bawah sampai  atas, orang awam hingga cendiakawan, politisi hingga pejabat   banyak  membicarakan istilah  yang begitu “keren” setelah  adanya  pendemi Covid-19. Menurut juru bicara  Pemerintah  untuk  penanganan Covid -19  Achmad  Yurianto  istilah  New Normal  lebih menitik beratkan perubahan budaya masyarakat  untuk terbiasa hidup sehat. Kebiasaan  seperti rajin  mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker saat  bepergian,      menghindari  kerumunan massa, dan juga  menjaga jarak fisik saat berinteraksi dengan orang lain  (physical distancing). 

Bentuk  benih-benih New  Normal sebenarnya telah bersemai  di Indonesia  semenjak adanya himbauan  Work From Home  (WFH) oleh pemerintah. Semenjak itu orang  berbondong-bondong  memulai  aktifitas  kerjanya dari rumah.Pergi ke kantor hanya kalau diperlukan atau ada keperluan  mendesak. Sehingga fungsi rumah seperti kantor yang dipakai untuk keperluan  kerja  bukan sekadar untuk istirahat melepas lelah dan  pertemuan  anggota keluarga. Sehingga seolah kantor  hilang fungsinya  karena digantikan oleh rumah.  Pertanyaannya  adalah apakah memang New Normal ini adalah  gaya hidup masa depan kita?  Apakah semua kalangan akan  menjalankan hidup New Normal ini?  Itulah segelintir   pertanyaan  yang mungkin  muncul  di  benak publik menyikapi   fenomena  New Normal ini. 

 

 

New  Normal  Yang  Abnormal

New Normal  adalah  gaya hidup  baru yang  suka tidak suka  harus  kita  hadapi  setelah mewabahnya  Covid-19 di dunia ini. Tak tekcuali  Indonesia. Pendemi  ini telah merubah  hampir semua sendi  kehidupan  masyarakat   mulai cara bekerja, belajar,  cara berinteraksi  antar sesama manusia,  sampai  tata cara  beribadah umat  beragama  pun  berubah. Sedemikian  dasyatnya  efek  kejut  dari Covid 19  yang manusia seluruh  dunia  dipaksa untuk menyesuaikan  diri  untuk bisa terhindar dari Covid19 ini. Sebenarnya  kalau  kita  mau jujur  bukan kehidupan   New Normal  yang kita  harapkan  dari  covid-19. Tapi langkah  yang tepat  dari pemerintah untuk   mengusir Covid-19  dari Indonesia. Sehingga penulis sependapat  dengan  pernyataan  Dahlan  Iskan , mantan  Menteri  BUMN  dan  Bos   Jawa Pos  dalam suatu   kajian online   baru- baru ini bahwa  New normal  bukanlah sebuah kenormalan tapi  sebuah abnormal. Karena  New Normal ini  hadir  dalam situasi  yang  serba  abnormal dari  kebiasaan  lama kehidupan manusia.

New Normal  yang keberadaanya  akan kita songsong ini  sebenarnya  banyak  menguntungkan  kelas  ekonomi menengah  dan atas  yang secara ekonomi telah mapan. Bagaimana tidak  mereka bisa  melakukan Work From Home (WFH) atau  tinggal di rumah (Stay at Home)  tapi tetap berpenghasilan untuk  memenuhi kebutuhan  makan, pakaian atau perumahan mereka. Dengan kata lain,   walaupun   tidak dikantor tapi mereka tetap di gaji, atau  sebagian kalangan  atas   tetap  menerima  pasive  Income  dari  investasi  mereka.  Atau sebagian  yang lain tinggal  menikmati  jerih payah  karena  tinggal  mantab (baca: mangan tabungan)  saja dari investasi tabungan  yang  mereka lakukan.  Golongan merekalah yang kelak  siap  menjalankan  kehidupan   New  Normal.  Mulai  dari protokol  Kesehatan Covid -19  seperti cuci tangan,  pakai masker,  tetap di rumah (stay at home), serta  WFH sampai  digitalisasi  aspek kehidupan mereka.  Sedangkan   bagi  mereka  yang tergolong kelas ekonomi  rendah  akan  banyak  hal yang  yang harus  mereka perhitungkan.  Misalnya  memakai masker  tiap  hari.  Bagi mereka  untuk  makan  saja susah apalagi untuk  membeli  masker. Untuk sekedar  cuci tangan  dengan pembersih kuman  pun   mereka  akan berpikir  seribu kali  karena uangnya  dipakai  untuk  membeli beras  untuk makan.  Himbauan  pemerintah  untuk  tetap di rumah pun  mereka  terpaksa langgar agar dapat makan. Demikian  juga  untuk pembelajaran daring ( online)  misalnya  untuk  yang orang tuanya kelas bawah  tentu memberatkan   karena  pembelian  kuota internet  yang  melonjak  drastis. Demikianlah  fenomena  New Normal ini seolah-olah  arena  seleksi alam  (darwinisme sosial) akibat dari munculnya  Covid-19 dimana mereka yang   mampu secara ekonomi,  berpendidikan tinggi, melek  teknologi  akan  mempunyai kemampuan beradaptasi yang  lebih tinggi   dibanding  dengan kelas  ekonomi kelas  bawah.        

Libatkan  Pakar Virus     

Karena  itu  New Normal yang digaungkan  oleh pemerintah ini  sebenarnya   kurang terpat apabila  digaungkan  pada  masa abnormal sekarang ini dimana pendemi ini belum  selesai. Makanya   tokoh  seperti Amin Rais    mengeluarkan penyataan keras  meminta  New Normal  tidak dipakai lagi karena bisa  mengelabui  diri sendiri (CNN Indonesia, 25 Mei 2020). Sehingga menurut hemat  penulis  New Normal  ini   bagai sisi  mata  uang. Dimana di satu  sisi mungkin  menjadi  cara  untuk  sebagian  kalangan  untuk  bisa bertahan  secara ekonomi ( memutar  roda ekonomi)  tapi disisi lain akan  memunculkan  korban bagi mereka  yang  tidak bisa  mengikuti  New normal ini. Oleh sebab  itu  penulis   mengusulkan dilibatkannya pakar Virus secara lebih intensif  guna  menghadapi era New Normal yang tidak  Normal  ini. Pakar  seperti Profesor  M Nidom  dari  universitas Airlangga  yang  begitu sukses meneliti tentang virus flu Burung harus ikut dilibatkan  secara  intens guna  menemukan sesegera mungkin   solusi dari virus  Covid 19 ini.

Sebagai penutup  situasi  pendemi   covid-19 ini   dimana kita  menghadapi situasi  ketidakpastian  yang tinggi maka  diperlukan kepasrahan  kita kepada  Allah  SWT. Maka  New Normal  yang abnormal  ini  menjadi  tantangan kita bersama  apakah  kita  siap  menjadi   manusia  normal  baru  atau tidak.  Bagaiaman pendapat  Anda?

 *Artikel Ini pernah dimuat  Harian Bhirawa Online pada Senin, 5 Oktober 2020 

Jumat, 28 Agustus 2015

Perkembangan Humas

Perkembangan  Humas


Oleh: Untung  Dwiharjo

Bab I

Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Perkembangan hubungan masyarakat (humas) pada masa kini dirasakan semakin pesat dan  banyak dibutuhkan oleh berbagai lembaga di dunia. Tapi  sejak kapan humas ada hingga kinipun menjadi perdebatan. Diantara para ahli humas ternyata tidak ada kesamaan pendapat menganai sejak kapan awal mula dimulainya kegiatan yang sekarang dikenal sebagai hubungan masyarakat atau humas atau public relations yang disingkat PR.
Ada yang mengatakan bahwa humas sudah dimulai sejak Zaman Romawi dengan menunjuk pada pencanangan slogan opini publik yang berbunyi vox populi, vox dei, yang berarti ”suara rakyat suara Tuhan”. Ahli lain menyatakan bahwa humas dipraktekan sejak 1800 sebelum masehi ketika Mesopotamia, yang kini dikenal sebagai negara Irak, disebarkan selebaran kepada para petani, yang isinya menjelaskan bagaimana caranya menuai tanaman dengan baik.    
Istilah  humas (public relations) sendiri menurut  Roland E. Wolseley  dan Laurence R Campbel dalam bukunya, Exploring Journalisme, untuk pertama kali digunakan oleh Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat pada tahun 1807, tetapi tidak dalam pengertian secara konsepsional masa kini (Effendy, 2002: 1).
Meskipun terdapat perbedaan mengenai sejak kapan dimulainya praktik kehumasan, namun yang sama pendapatnya ialah bahwa humas merupakan bagian integral dari pemerintahan, dan gejala-gejalanya yang kemudian menjadi unsur-unsur penting bagi konsep humas diakui sudah ada sejak manusia ada. Gejala-gejala tersebut adalah hubungan antara seseorang dengan orang lain, hasrat seseorang untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain, anjuran seorang pemimpin kepada pengikutnya, ajakan seorang penguasa kepada rakyatnya dan sebagainya ((Effendy, 2002: 2). Sekarang hampir semua lembaga yang ada dimasyarakat mulai dari  tingkat bawah sampai atas baik itu negeri maupun swasta menggunakan jasa humas demi mengembangkan lembaganya. Tidak terkecuali dalam pendidikan. Lalu bagaimana perkembangan humas dalam pendidikan?


BaB II
Pembahasan

  1. Perkembangan  Humas Di Dunia
Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi The Father of Public Relations.
Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat.
Tujuan, teknik, alat dan standar etika berubah-ubah sesuai dengan berlalunya waktu. Misalnya pada masa suku primitif mereka menggunakan kekuatan, intimidasi atau persuasi ntuk memelihara pengawasan terhadap pengikutnya. Atau menggunakan hal-hal yang bersifat magis, totem (benda-benda keramat), taboo (hal-hal bersifat tabu), dan kekuatan supranatural.
Penemuan tulisan akan membuat metode persuasi berubah. Opini publik mulai berperan. Ketika era Mesir Kuno, ulama merupakan pembentuk opini dan pengguna persuasi. Pada saat Yunani kuno mulai dikembangkan Olympiade untuk bertukar pendapat dan meningkatkan hubungan dengan rakyat. Evaluasi mengenai pendapat atau opini publik merupakan perkembangan terakhir dalam sejarah kemanusiaan.
Dasar-dasar fungsi humas ditemukan dalam revolusi Amerika. Ketika ada gerakan yang direncanakan dan dilaksanakan. Pada dasarnya, masing-masing periode perkembangan memiliki perbedaaan dalam startegi mempengaruhi publik, menciptakan opini publik demi perkembangan organisasinya. Perkembangan humas di dunia secara kronologis dapat ditabelkan sebagai berikut:







Tabel Kronologis Perkembangan PR (humas) di Dunia
Abad ke-19 
:
PR di Amerika dan Eropa merupakan program studi yang mandiri didasarkan pada perkembangan  Ilmu pengetahuan dan teknologi
1865-1900    
:
Publik masih dianggap bodoh
1900-1918    
:
Publik diberi informasi dan dilayani
1918-1945     
:
Publik diberi pendidikan dan dihargai
1925
:
Di New York, PR sebagai pendidikan tinggi resmi
1928  
:
Di Belanda memasuki pendidikan tinggi dan minimal di
fakultas sebagai mata kuliah wajib.  Disamping itu banyak diadakan kursus-kursus yang bermutu
1945-1968     
:
Publik mulai terbuka dan banyak mengetahui
1968
:
Di Belanda mengalami perkembangan pesat. Ke arah
ilmiah karena penelitian yang rutin dan kontinyu.
Di Amerika perkembangannya lebih ke arah bisnis
1968-1979     
:
Publik dikembangkan di berbagai bidang, pendekatan tidak hanya satu aspek saja
1979-1990     
:
Profesional/internasional memasuki globalisasi dalam perubahan mental dan kualitas
1990-sekarang
:
  1. perubahan mental, kualitas, pola pikir, pola pandang, sikap dan  pola perilaku secara nasioal/internasional
  2. membangun kerjasama secara lokal, nasional internasional
  3. saling belajar di bidang politik, ekonomi, sosial budaya,  Iptek, sesuai dengan kebutuhan era global/informasi
Sumber: Sri Rahayu H.,S.Sos, Kehumasan Sebuah Profesi Penting Bagi Perusahaan,
dalam http://ayoesr.files.wordpress.com/2007/12/pr.doc



  1. Perkembangan Humas dalam Pendidikan
Pendidikan menurut Onong Uchjana effendy (2002: 32) juga termasuk metode komunikasi, sebab jelas unsur-unsur yang dicakup olehnya, jelas pula proses yang dilangsungkannya.
Pendidikan dalam arti sempit adalah teknik komunikasi, suatu cara yang dilakukan berulang-ulang untuk membuat seseorang atau sekelompok orang memahami sesuatu lebih mendalam sehingga meningkat kecerdasannya.
Pendidikan dalam arti luas adalah metode komunikasi, suatu teknik komunikasi yang dilembagakan dan dikonseptualisasi secara metodologis dan sistematis untuk membuat sejumlah orang menjadi cerdas dan meningkat intelektualitasnya.
Pendidikan dalam arti luas diselenggarakan secara formal dan berjenjang oleh lembaga yang dinamakan sekolah, akademi, universitas dan lain sebagainya. Pendidikan sebagai teknik komunikasi kadang-kadang dilakukan oleh para pehumas untuk aspek-aspek tertentu dalam bidang kehumasan.  Uraian berikut mencoba meneropong perkembangan humas dalam pendidikan  di negera asal humas.
          
  1. Perkembangan Humas dalam Pendidikan di AS

Tidak dipungkiri perkembangan humas  secara modern berada di Amerika Serikat  sebagai tempat istilah itu lahir (Abdurrachman, 2001:15). Sehingga perkembangan humas  dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari negara tersebut. Karena dengan semakin meningkatnya perhatian terhadap humas terutama perusahaan besar, timbul kebutuhan akan orang –orang yang memiliki pengetahuan khususnya dalam bidang itu.

Atas dasar itulah maka timbul pemikiran untuk mendidik para calon Publik Relation (PRO) dan memberikan pengetahuan pada mereka tentang dasar-dasar kepemimpinan dan pelaksanaan publik relations secara efektif  sebagai suatu profesi. Untuk mememnuhi kebutuhan itu didirikanlah fakultas-fakultas dan kejuruan humas di berbagai universitas.
            Dari kira-kira 76 perguruan tinggi yang memberikan mata pelajaran public relations (humas) di AS, diantaranya: Army Information School, Carlisle, Pa. Boston University, Colombia  University, Cornell University, Harvad University, University Of Illionis, Stanford University, University Of Wisconsin, Indiana University, State University of Iowa, New York University, Northwestern University, Princeton University, University of Soutthern California, Siracuse States Military Academy (Abdurhaman, 2001:23).
Bahkan dalam perkembangannya sekarang hampir 200 colleges (fakultas) dan Universitas menwarkan pendidikan PR atau program sarjana PR. Lebih banyak lagi yang memberikan kursus-kursus. Mayoritas program studi pada fakultas jurnalistik, peminat PR yang mendaftar menduduki rangking pertama atau kedua. Lembaga-lembaga pendidikan, kini mengakui perlu mendidik PR secara intensif (Soemirat & Ardianto, 2002:5).

Kurikulum yang disusun untuk para mahasiswa humas itu diantaranya meliputi ilmu pengetahuan tentang: Sosiologi, Psykologi, human and labor relations, radio, TV dan film productions, manajemen, advertising, reporting, public opinion, politik ekonomi, reseach method, propaganda dan publisitas. Berkat pendidikan yang diselenggarakan di perguruan tinggi itu, lahirlah publik relations spesialis dalam bidang internasional relations, pemerintahan, pendidikan, perbankan, perindustrian ringan dan berat, perdagangan dan sebagainya (Abdurrahman, 2001:24). 

Ternyata dalam perkembangan humas di AS mengalami banyak kemajuan pesat. Dalam suatu studi terhadap pejabat di eksekutif di  dari 200 organisasi di AS, Kanada, dan Inggris Raya, the value of Copmunication (nilai komunikasi) merupakan suatu hal penting dan profesi praktisi PR dihargai sangat tinggi. Di Amerika sendiri, PR adalah bisnis multi jutaan dollar dengan melibatkan 159 ribu profesional PR, berdasarkan catatan biro statistik Amerika  Serikat (Soemirat & Ardianto, 2002:4).

  1. Perkembangan Humas dalam Pendidikan di Indonesia
Perkembangan humas dalam  pendidikan di Indonesia mulai berkembang dengan dibukanya pendidikan atau jurusan yang mengajarkan tentang humas.  Di Universitas negeri seperti UI, UGM, UNAIR serta UNPAD  berdisi jurusan Komunikasi dan Kehumasan pada awal tahun 80-an. Kemudian diikuti oleh perguruan tinggi swasta di Indonesia. Perkembangan  humas semakin cepat dengan perubahan zaman dari Orde Baru menuju Reformasi dan perkembangan zaman yang memasuki era globalisasi dengan kemjuan teknologi informasi. 

Menurut Sri Rahayu H.,S.Sos, dalam makalahnya yang berjudul Kehumasan Sebuah Profesi Penting Bagi Perusahaan, mengatakan bahwa perkembangan ilmu dan profesi PR di Indonesia kini semakin pesat. Ini ditandai dengan banyaknya lembaga pendidikan PR dan sejumlah organisasi PR seperti Perhumas (Asosiasi PR di Indonesia), APPRI (Asosiasi Perusahaan PR di Indonesia), Bakohumas, Forum Humas BUMN, Forum Humas Perban-kan dan sebagainya. Bahkan untuk menambah atau memperluas wawasan bagi para PR ada lembaga pelatihan manajemen seperti IPPM, LM-UI, IMPM, dan sebagainya (Kasali, 1994: 35).
Bahkan di Indonesia sudah berdiri perusahaan PR  yang terkemuka: Diantaranya PT. Inti Pratama Manggara, PT. Madah Papanpara Rancang, PT. Ventura Perdana Utama, PT. Fortune Pramana Rancang, Eksekutif PR, PT. Citra Relata Mulia, inke Maris  & Asosiates, PT. DES Art, Ida sudoyo & Associates, GMT PR, serta Dikara Komunika (Kasali, 1994).    





Bab III
Simpulan

Sebagaimana di jelaskan pada paparan di atas terlihat bahwa perkembangan humas dalam pendidikan sekarang ini mengalami kemajuan yang pesat. Dimana sekarang banyak berdiri universitas dan organisasi yang menyelenggarakan program kehumasan sehingga secara langsung ikut mendorong perkembangan humas secara lebih cepat.
Bahkan sekarang ini banyak lembaga-lembaga yang menggunakan jasa humas untuk menunjang laju perkembangan organisasi. Dimana hal ini turut serta berperan dalam perkembangan humas dalam pendidikan.
Apalagi dengan kemajuan teknologi yang demikian dasyat ini maka bisa menjadi daya dorong bagi perkembangan humas dalam pendidikan bisa lebih berkembang lagi  secara berlipat-lipat pada masa yang akan datang.   

***


Daftar Pustaka
1.               Onong Uchjana Effendi. Hubungan Masyarakat. Suatu Studi Komunikologis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2002. 
2.               Oemi Abdurrahman. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. 2001.
3.               Soleh Soemirat & Elvinardo Ardianto. Dasar-Dasar Public Relations. PT.  . Remaja Rosdakarya. 2002.
4.               Rhenald Kasali, Manajemen Public Relations. Jakarta: Grafiti. 1994

5.        Sri Rahayu H.,S.Sos, Kehumasan Sebuah Profesi Penting Bagi Perusahaan,
                  dalam http://ayoesr.files.wordpress.com/2007/12/pr.doc




Media-Media Humas Dalam Pendidikan

Media-Media Humas Dalam Pendidikan
Oleh: Untung dwiharjo

Bab 1
Pendahuluan

  1. Latar Belakang


            Sekarang ini  humas sudah banyak digunakan oleh berbagai organisasi dan lembaga di hampir semua elemen di masyarakat. Hal itu menegaskan bahwa hubungan masyarakat (humas) merupakan kegiatan melaksanakan hubungan dengan publik di luar dan di dalam organisasi dengan jalan komunikasi. Sudah tentu komunikasi yang dilakukan tidak sembarangan, melainkan dengan cara-cara di sertai seni  komunikasi tertentu yang merupakan obyek komunikasi (Effendy.2002:18).
Pada masa sekarang ini alat untuk berkomunikasi berkembang dengan cepat sehingga dibutuhkan sarana atau media yang modern pula dalam komunikasi. Sehingga komunikasi yang dijalin akan semakin lancar. Menurut Wilbur Scramm menampilkan apa yang disebut sebagai  The  condition of success in communication, yakni kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan agar pesan membangkitkan tanggapan  yang kita kehendaki.
Kondisi tersebut dirumuskan sebagai berikut: (1) Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan. (2) Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti. (3) pesan harus memperhatikan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. (4) pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi suatu situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki (Effendy. 2000:41-42).     
Dengan memperhatikan syarat tersebut jelaslah, mengapa para ekspert kemunikator memulai dengan meneliti sedalam-dalamnya tujuan kemunikan dan mengapa know your audience merupakan ketentuan utama dalam kemunikasi. Sebabnya ialah karena penting sekali mengetahui: timing yang tepat untuk suatu pesan, bahasa yang harus  digunakan agar pesan dapat dimengerti, sikap dan nilai yang harus ditampilkan efektif , dan jenis kelompok dimana komunikasi akan dilaksanakan.
Sehingga sebagaimana dikatakan  Cultip dan Center dalam bukunya Effective Public relations mengemukakan fakta fundamental yang perlu diingat oleh komunikator:
a)      Bahwa Komunikan terdiri dari orang-orang yang hidup, bekerja, dan bermain satu sama lainnya dalam jaringan lembaga sosial.
b)      Bahwa Komunikan itu membaca, mendengarkan, dan menonton keomunikasi  yang menyajikan pandangan hubungan pribadi yang mendalam
c) Bahwa tanggapan yang diinginkan komunikator dari komunikan harus menguntungkan bagi komunikan, kalau tidak, ia tidak akan memberikan tanggapan (Effendy. 2000:42-43)  

Dengan memperhatikan uraian diatas. Maka bagi para pengelola sekolah baik itu negeri maupun swasta  perlu mengenal berbagai media-media humas dalam pendidikan yang bisa digunakan dalam rangka mendongkrak berjalannya proses pendidikan di sekolah. Untuk keperluan makalah ini maka kami mengambil  pertanyaan media-media humas  pendidikan apa saja yang bisa digunakan sekolah?

Bab II
Pembahasan

  1. Perbedaan Media Iklan dan Humas

Para pengelola sekolah terutama para praktisi humas di sekolah, agar lebih secara tepat mengggunakan media-media humas pendidikan di sekolah. Ada baiknya memahami terlebih dahulu perbedaan umum antara media periklanan dan media humas, sehingga tidak dijumpai praktik di lapangan yang tumpang tindih dan tidak tepat sasaran. Yang berakibat pada mubazirnya anggaran sekolah.  Perbedaan keduanya  bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel  Perbedaan antara media Periklanan dan Media Publik Relation (humas)
Media Periklanan
Media Public Rel;ations (humas)
1. Iklan Display dan iklan baris pada surat Kabar, majalah, jurnal dan lain-lain
1.Features, gambar/foto, kegiatan tertentu, sejarah perusahaan, dan lain yang dibuat baik di media cetak intern maupun ekstern
2. Iklan komersial, TV, bioskop dan video
2. Film dokumenter, film sponsor, slide, video, berita televisi, dan lain sebagainya.
3. Iklan radio (jingle dan sound)
3. Wawancara yang direkam dan disiarkan oleg radio, wawancara per telepon, dan lain sebagainya
4. Poster, papan reklame, dan media luar ruang lainnya.
4. Poster dan media luar ruang, yang sifatnya mendidik, memberi petunjuk
5. Brosur, booklet, katalog, dan lain-lain
5. Seminar konferensi, pembicara pada forum tertentu, dan terkadang dikombinasikan dengan pertunjukan, penyajian slide, dan pameran, serta pembagian laporan tahunan. Kunjungan
6. surat penawaran melalui direct mail
6. kunjungan kerja, kunjungan ke media massa
7. Pemberian sponsor dengan penekanan pada tujuan
7. Partisipasi pada berbagai peristiwa penting, karnaval, pemberian penghargaan, sponsor untuk kegiatan tertentu.
8. Bentuk-bentuk  iklan khusus seperti tas belanja, balon udara dan lain-lain
8. Penekanan pada identitas perusahaan, seperti desain arsitektur bangunan yang konsisten di setiap cabang, logo, warna , tipografi, seragam karyawan.
Sumber: Rhenald Kasali, Manajemen Public Relations: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. (Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1994). Hal. 146

Setelah mengetahui perbedaan antara media iklan dengan media humas, maka diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas bagaimana gambaran media iklan  dan media  humas khususnya dalam bidang pendidikan, khususnya di sekolah. Tentu saja yang terdapat pada media humas pendidikan perlu dimodifasikasi apabila akan diterapkan pada dunia pendidikan terutama sekolah. 

  1. Media-Media Humas Pendidikan

Berikut ini beberapa humas pendidikan yang bisa diterapkan pada sekolah. Tentu saja penerapan masing-masing harus melihat kemampuan sekolah. Dan untuk memudahkan media maka berikut ini akan dibagi menjadi dua bagian besar.
1.Media-media Internal publik relation (humas) di sekolah
 Menurut Griswold internal humas bertujuan agar karyawan mempunyai kegairahan kerja  (Abdurrahman, 2001:34). Maka apabila diterapkan pada sekolah bisa diterapkan untuk menjalin hubungan antara sesama guru agar lebih akrab serta antara guru dengan kepala sekolah atau  antara siswa dengan muridnya. Sehingga terjalin komunikasi yang informatif dan kemunikatif.  Untuk itu bisa ditempuh dengan media humas sebagai berikut:  
1). Tertulis, yaitu memnggunakan surat-surat, papers, buletin, brosur dll.
2). Lisan, mengadakan brefing, rapat-rapat, diskusi, ceramah.
3). Consellling: Menyediakan beberapa anggota staf yang telah mendapat latihan atau pendidikan untuk memberikan nasehat kepada para karyawan (guru), turut memecahkan masalah-masalah pribadi mereka, atau mendiskusikan bersama-sama.

2. Media-Exsternal Public Relations (humas) di sekolah
Salah satu tujuan eksternal Public Relations adalah untuk mengeratkan hubungan dengan orang-orang yang diluar badan/instansi hingga terbentuklah opini publik yang favorable terhadap badan itu (.Abdurrahman, 2001:38).
Tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam eksternal Public Relations atas dasar untuk memperoleh dukungan, pengertian, dan kepercayaan publik luar (eksternal public) menciptakan kesediaan kerja sama dari publik, adalah:
  1. Menilai sikap dan opini publik terhadap kepemimpinan, terhadap para pegawai dan metode yang digunakan.
  2. Memberi advies dan counsel pada pimpinan tentang segala sesuatu yang ada hubungannya dengan humas menganai perbaikan-perbaikan, kegiatan-kegiatan dan lain dll.
  3. Memberikan penerangan-penerangan yang obyektif, agar publik tetap informed tentang aktifitas dan perkembangan badan itu
  4. Menyusun staf yang efektif untuk bagian itu.

Komunikasi dengan eksternal publik dapat diselenggarakan diantaranya dengan:
  1. Persoanal contac (Kontak Pribadi)
Unsur penting dalam hubungan ini adalah adalah perlakuan terhadap perorangan-perorangan yang berhubungan dengan badan/instansi.

  1. Press release
Dalam menyiapkan press relase hendaknya diperhatikan soal-soal teknis mengenai penyususnan dan pengetikan pesan dan distribusinya. Biasanya press release diberikan kepada wartawan untuk bahan pemberitahuan akan suatu kegiatan suatu media untuk bisa dimuat di media.
  1. Press Relations
Press relations ini adalah berhubungan dengan jalinan hubungan yang baik dengan para pemimpin atau wakil surat-surat kabar, majalah-majalah, kolomnis, penulis feature, pemimpin radio dan televisi.
d. Press Conference & Press Breifings       
      Dalam keadaan tertentu dan mengenai pengumuman tertentu, dianjurkan  untuk menyelenggarakan pers conference dari pada hanya press relase saja. Press conference ini hanya diselenggarakan bila ada peristiwa-peristiwa penting saja  di suatu instansi./badan. Instansi dapat mengadakan press conference atas dasar inisiatrifnya sendiri atau atas permintaan wakil pers sendiri.
  1. Radio dan Televisi
Pemanfaatan radio televisi bagi media humas pendidikan di sekolah  saat ini agak mengalami kemajuan dimana banyak sekolah mulai muncul pemberitaannya di  kedua media itu. Apalagi media tersebut sekarang banyak dijumpai ditiap rumah masyarakatnya khususnya media televisi.
  1. Film
Filme dapat berupa filem dokumentasi, atau hiburan, yang berisi informasi-informasi, pendidikan, dan sebagainya. Menurut hemat kami film ini bisa berupa film kegiatan sekolah atau prestasi sekolah sehingga  menibulkan motivasi bagi yang melihatnya. Sepertinya hal film Laskar Pelangi yang sekarang banyak diputar dan ternyata meledak penontonya. (Abdurrahman, 2001:40-44).
  1. Penyelenggaraan Pameran
Pamaren atau exhibition merupakan sarana yang efektif untuk menyebarkan suatu pesan karena bersifat informatif dan persuasif. Karena publik pengunjung pameran akan melihat, mendengar, meraba, mencium bahkan mungkin mencoba benda-benada yang dipamerkan. Efektifitas pameran karena ialah karena pada sarana komunikasi itu publik dapat menyaksikan peragaan proses tertentu, dapat bertanya sepuas hati (Effendy. 2002:140-141). Dalam konteks sekolah misalnya pihak sekolah dapat mengikuti pameran pendidikan misalnya untuk tingkat regional. nasional dan kalau memungkinkan tingkat Internasional sehingga dikenal oleh masyarakat luas.
  1. Pembuatan Poster
Dalam kehidupan manusia yang semakin modern, sejalan dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang, poster sebagai sarana komunikasi semakin penting perananya. Kenyataan ini tampak dikota-kota besar yang secara meraksasa menjulang, poster berwarna-warni dan beraneka ragam di malam hari sungguh meriah dan mempesona (Effendy. 2000:149). Dalam hal ini pihak sekolah bisa membuat poster misalnya berupa poster sapnduk, poster tranposat yang dipasang di tempat umum seperti kerata api stasiun. Misalnya tentang siswanya yang berprestasi.

    1. Internet (Media Intra-Ekstra Humas)
Kini dunia humas mengalami jaman keemasan, karena teknologi internet ini telah membawa praktisi mampu mencapai publik sasaran secara langsung, tanpa intervensi dari pihak lain, seperti redaksi atau wartawan di media massa, yang biasanya bertindak sebagai penjaga gawang pesan komunikasi dan melakukan penyensoran terhadap pesan informasi humas bagi khalayak (publik).
Beberapa diantaranya yang bisa dilakukan praktisi PR melalui penggunaan internet:  
i)                    PR harus menyadari bahwa khalayak/publik dapat mengakses semua press release atau news release yang dikirimkan melalui internet atau server, dengan menggunakan kata-kata yang mudah dicari dan dipahami khalayak.
ii)                  Publik dapat mengakses press Release dalam home page yang ada world wide web (bila perusaahaan itu memiliki home page)
iii)                 PR  dapat membuat mailing list dari publiknya. Mailing list adalah perangkat elektronik yang dapat menyebarkan Press release kepada publiknya kotak e-mail.
Kuentungan PR dalam menggunakan internet: (a) informasi cepat sampai pada publik. (b) Bagi PR, internet dapat berfungsi sebagai iklan, media, alat marketing, sarana penyebaran informasi dan promosi. (c) Siapapun dapat mengakses internet. (d) tidak terbatas oleh ruang dan waktu. (e) Internet dapat membuka kesempatan melakukan hubungan komuniksi dalam bidang pemasaran secara langsung (Soemirat & Ardianto, 2002: 191-192).

Selain yang disebutkan di atas, media-media  humas pendidikan dalam sekolah, sebenarnya masih banyak yang lain untuk menyebarluaskan informasi dan mengadakan hubungan dengan publik. Diantaranya dengan menggunakan kartu pos bergambar kalender, telepon, atau  mungkin dengan menggunakan SMS lewat ponsel kepada khalayak. Menurut Oemi Abdurrahman (2001:44)  untuk menggunakan salah-satu media di atas, para praktisi humas harus memikirkan efektifitasnya. Oleh karena itu harus mempunyai pengetahuan tentang media komunikasi hingga ia dapat memilihnya mana yang tepat.
Menurut hemat kami pemilihan media-media humas pendidikan kehususnya di sekolah juga perlu memperhatikan hal tersebut sehingga media yang digunakan dapat tepat sasaran.   

Bab III
Simpulan

Dari uraian yang dijelaskan di atas  terlihat bahwa banyak media humas pendidikan yang tersedia bagi para praktisi humas di sekolah. Tentu saja pilihan bagi pihak sekolah tergantung pada sasaran yang ingin di capai serta dana yang tersedia.
Bagi sekolah idealnya bisa menggunakan lebih dari satu media humas  pendidikan atau menggabungkan satu dengan  yang lain sehingga daya jangkau dan efektifitasnya lebih bisa meluas.
Ke depan dengan perkembangan teknologi yang semakin  maju  maka membuka kreatifitas bagi para praktisi humas untuk menggunakan media-media humas pendidikan selain  yang dipaparkan di atas.
Tentu saja semunya kembali ke pada itikad baik pihak sekolah untuk menggunakan media-media humas pendidikan secara lebih profesional dan lebih maju lagi  dimasa yang akan datang.
  

***



Daftar Pustaka

    1. Soleh Soemirat & Elvinaro Ardianto. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.2002
    2. Onong Uchjana Effendy. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung. PT. Citra Adtya Bakti. 2000 
    3. Onong Uchjana Effendy. Hubungan Masyarakat: suatu studi Komunikologis. Bandung. PT. Citra Adtya Bakti. 2000     
    4. Rhenald Kasali. Manajemen Publik Relations: Konsep dan aplikasinya Di Indonesia. Jakarta. PT. Grafiti. 1994
    5. Oemi Abdurrachman. Dasar-Dasar Public Relations.  Bandung. PT. Citra Adtya Bakti. 2001